Friday, March 31, 2017
take a sip from your cup of tea, and enjoy Posted at 3:42 AM 0 comments (+)
Kata teman saya, ada kutipan di Kitab Suci dimana isinya adalah, suatu saat nanti, hal-hal yang salah akan dianggap benar dan hal-hal benar akan dianggap salah. Jangan tutup mata kamu. Kamu tahu kamu merasakan bahwa yang sedang terjadi sekarang adalah tahapan menuju perkataan itu.

Pertama.
Aksi demo di Kota Metropolitan. Saya bersikap tidak memihak pada calon-calon yang akan memimpin kota itu. Yang saya bicarakan adalah para pelaku aksi dan anggota masyarakat--yang semuanya bisa kita tonton di sosial media. Rasanya lucu sekali. Aksi satu, aksi dua, masih dimaklumkan. Para pelakunya mendapat dukungan dari semua lapisan masyarakat, yang mungkin merasakan trigger yang pas. Satu masalah sensitif yang dapat membangunkan semua emosi dengan kadar yang, ya itu, pas. Agama selalu jadi topik yang menyenangkan untuk dibahas, baik dalam diskusi sehat, positif, dan selalu dapat berperan sebagai bensin sebelum disulut api. Saya pribadi sering membahas agama dengan teman saya yang tidak seiman--dan fyi, 80% teman saya tidak seagama dengan saya--tapi yang membedakan adalah, mereka punya pengetahuan lebih untuk mengontrol emosi mereka dan mau bertukar pikiran. Mereka mau membuka wawasan. Niat untuk membuka wawasan atau tidak adalah kunci utama dari sikap orang. 

Dan sekarang, ada aksi kesekian berapa kali, saya sudah tidak tahu. Urutan angkanya pun saya sudah tidak peduli. Mungkin mereka mau berbisnis nomor cantik. Entahlah. Dan tujuannya sangat jelas. Ingin menjatuhkan salah satu pasangan yang beragama minoritas, dengan anggota demo yang berasal dari seluruh Indonesia. Lucu, bukan? Presiden bukan, tapi didemo dari penduduk luar kota.

Kedua.
Jenis manusia-manusia yang bermunculan belakangan ini beserta jenis seni yang dibawanya. Banyak, dan saya harus sebut satu-satu. Sebut saja, Awkarin. Manusia perempuan yang terkenal karena eksistensinya di sosial media, menangis gerung-gerung waktu diputusin, menyanyikan lagu dan membuat heboh atas drama-dramanya. Sebut saja, para musisi modern yang lebih banyak menjual tubuh dan lagu tanpa lirik berarti, bahkan melenceng salah, dan tetap disukai orang-orang. Mungkin darisanalah ilham Awkarin. Hal seperti ini sudah tercium oleh BLUR di lagunya yang berjudul Universal. 

Every night we're gone
And to karaoke songs
How we like to sing a long
Although the words are wrong

Musik dengan lirik demikian, suntik sana-sini, dan jadilah hasilnya. Manusia yang ingin terlihat sangat barat dan dibilang OMG YOU'RE GODDAMN COOL dan disertai permak di wajahnya. 

Kedua hal ini punya benang merah. Sosial media. Sosial media menjadi televisi umat manusia sekarang, sekaligus menjadi bukti bahwa manusia sebenarnya tidak bisa menggunakan kecerdasan mereka dengan benar. Sosial media dan smartphone bisa menjadi alat yang tepat kalau kita menggunakannya dengan tepat, tapi seringnya, kita yang digunakan social media dan smartphone. Dan apa akibatnya? Fatal. 

Saya sendiri hanya punya instagram dan line di ponsel saya karena saya lelah menggunakan terlalu banyak jenis yang akhirnya mengakibatkan saya merasa freak. Saya melihat orang lain yang menggunakan snapchat dan berkata-kata sendiri, dimanapun, kapanpun, dan itu menyeramkan. Keseraman itu bertambah ketika muncul fakta orang bisa terkenal hanya karena apa yang mereka posting disana. Hina saya karena saya mengatakan ini, tapi menurut saya, orang yang selalu meng-update foto selfie di semua sosial media mereka, adalah orang yang menyedihkan. Sedikit bumbu fotografi dengan background dan cahaya yang baik masih oke. Tapi hanya selfie? Sejujurnya apa yang perlu dinilai dari ratusan foto dengan wajah dan senyum yang sama dan hanya dibedakan dengan caption? Menyenangkan memang. Tapi menurut saya itu adalah sebuah habit, dan habit berkembang menjadi sikap, dan sikap menjadi kepribadian anda. Hina saya, silahkan, karena saya memang sering memotret dan mengapresiasi foto tentang ruang yang lebih punya makna. 

Jadi, kenapa saya bilang fatal akibatnya bila kita tidak menggunakan social media dan smartphone dengan tepat? Karena akibatnya kurang lebih antara kamu bisa mempermalukan diri kamu sendiri, atau kamu bisa terpengaruh dengan hal-hal negatif. Kedua hal ini menurut saya sering terjadi pada siapapun yang belum bisa melihat sekelilingnya dengan bijak, atau pada siapapun yang merasa dirinya bijak. Kata Socrates, orang bijak adalah orang yang merasa dirinya belum tahu apa-apa. Dan nyatanya, saya melihat banyak orang yang merasa bijak bertebaran di dunia maya.

Jenis manusia pertama adalah mereka yang merasa paling benar dalam dunia. Hampir semua orang tahu belakangan ini kolom komentar lebih seru dibanding beritanya sendiri. Saya habis menemukan komentar atas berita demo 313, isinya kurang lebih adalah mempertanyakan kenapa aksi demo tidak dilakukan untuk isu yang lebih penting, seperti freeport, makar, korupsi? Tapi komentar itu kemudian dibalas dengan komentar lain, ini kan ngomongin demo tentang membela agama, kenapa nyambungnya ke sana?

Saya terpingkal-pingkal membaca balasan komentar itu. 

Banyak yang bisa dibicarakan dari sini. Pertama, menurut saya ini bisa disebut sebuah fenomena karena menunjukkan betapa orang-orang masih belum tepat menggunakan sistem pemikirannya. Ketidaktepatan ini muncul karena wawasannya yang sempit dan perasaan bahwa dirinya bijak. Kedua hal itu terlihat dari cara komentar mereka di dunia maya. Ini memang opini pribadi--tapi memang lebih bermanfaat kalau tenaga demo dihabiskan untuk melawan para koruptor, dan dalam konteks ini, si pembalas komentar itu agak merasa pintar dan berpikir bahwa ia membalas komentar dalam konteks yang sama. Padahal tidak. Ini seperti minta apel dikasih jeruk. Cukup miris memang. 

Dan, hina saya lagi karena saya tidak tahu apa-apa soal mereka, tapi menurut saya Tuhan tidak perlu dibela. Mungkin ada imbalan atau hadiah bagi mereka yang melakukannya. Saya tidak tahu. Tapi manusia bahkan tidak lebih besar dari semut di mata-Nya dan Ia Maha Besar. Semua agama pasti mengajarkan kebaikan pada sesama manusia. Kalau memang ingin melindungi agama tapi melukai manusia lain, menurut saya itu bukan sebuah kebanggaan, apalagi kebaikan. Apalagi kalau melihat apa yang belakangan ini terjadi di Kota Metropolitan, saya ragu itu semua bergerak demi kepentingan agama. Mungkin sudah banyak orang yang tahu apa motif di baliknya, tapi masih ada bagian orang-orang yang matanya tertutup dan tak melihat bahwa panutan mereka sesungguhnya menyebut Tuhan segitu mudahnya seperti menyebut barang. Dan hasil dari itu semua adalah komentar yang suka tidak nyambung seperti di atas. 

Sangat bagus, memang, kalau kita belajar semua hal pada Kitab kepercayaan kita, termasuk ilmu matematika dan astronomy dan banyak macamnya. Tapi kurang baik kalau kita kemudian menutup mata terhadap buku lain, karena itu sama saja seperti membuka jendela tapi tidak mau keluar ke halaman besar yang terlihat darisana. Ibaratnya seperti kita hanya tahu rute lewat Puncak kalau ingin ke Bandung dari Jakarta, padahal ada jalan tol. Mungkin buku-buku lain kurang tepat pemikirannya, tapi itu salah satu upaya manusia untuk mendekati Tuhan atas apa yang diciptakannya dan diinterpretasikan menjadi rumus-rumus matematika atau fisika atau kimia. Tapi jauh lebih tidak bagus kalau kemudian kita memaksakan cara kita memahami dunia pada orang lain. Sayangnya, itu yang belakangan sering terlihat. 

Opini saya, agama adalah media manusia dengan Tuhan. Apapun yang terjadi adalah urusanmu pribadi dengan Tuhan. Membela tidak salah, tapi menyerang merupakan aksi yang sangat tidak tepat. Yang lebih penting adalah keyakinan kita dengan Dia. Cukup masing-masing pribadi dengan Dia. Tidak perlu dipaksakan ke orang lain untuk meyakini dengan cara yang sama. 

Jenis manusia kedua adalah mereka yang merasa paling benar dalam cara hidup. Panutan saya ada banyak. Mami saya, cici saya, teman-teman saya yang bekerja di bidang seni, teman-teman saya yang bekerja di bidang leadership, dan masih banyak. Tapi tanyakan pada anak-anak kecil yang hobinya nonton sinetron dan memegang smartphone. Siapa panutan mereka? Pasti setidaknya ada nama Awkarin, Anya, Kardashian Family, and stuff. 

Saya masih ingat saat nama-nama itu masuk televisi karena dipanggil Komisi Perlindungan Anak atas perbuatan-perbuatan mereka yang dianggap melenceng dan membahayakan generasi muda. Ada satu kesempatan dimana mereka bilang kurang lebih menyatakan bahwa, kalo gak suka jangan liat. Nakal boleh bego jangan. Kalimat-kalimat yang kurang lebih intinya adalah jangan tiru perbuatan mereka yang vulgar karena mereka senang melakukannya, tapi orang lain jangan mengikutinya. Kalimat lainnya adalah kalimat-kalimat motivasi yang kurang lebih intinya tentang live your life by being yourself. You don't own anyone anything, they don't feed you. Intinya, jadi diri sendiri karena orang-orang tidak punya hak atas diri kamu.

Tidak salah. Sama sekali tidak salah. Saya pun begitu. Fashion saya dikomentari, toh untuk saya nikmati sendiri. Siapa yang mau saya racuni? Tidak ada. Paling teman-teman dekat saya. Tapi yang jadi perbedaan adalah lingkup sosialnya. Walaupun mereka mau bilang jutaan kali kepada masyarakat untuk tidak menjadikan mereka pantan karena sudah pernah dipanggil KPAI atas ancaman pada generasi muda, tapi tetap ada jutaan orang yang mengikuti mereka di social media. Mengikuti dan menjadikan mereka panutan atas kemauan sendiri. Live your life by being yourself. You don't own anyone anything, they don't feed you. Sama sekali tidak salah. Tapi dengan cara apa dan bagaimana. Kalau memang cara kalian adalah dengan menjadi anak sok nakal yang kebarat-baratan dan permak muka karena ingin tambah cantik (yang mana sebenarnya malah jadi semakin jelek), tidak apa-apa. Tapi jangan berkomentar balik atas komentar yang diucapkan masyarakat ke kalian, karena itu sudah jadi konsekuensinya. Masyarakat kalian bilang culun karena gak modern, gak kebarat-baratan, ya mau bagaimana? Itu memang jenis masyarakat kita, dan manusia sepatutnya mencintai, atau minimal menghormati budaya asli tempatnya dilahirkan, karena itu identitas majemuk. Kalau kalian tidak suka, kalian tidak berhak mengomentari balik karena kalian yang keluar dari identitas tersebut.

Tulisan ini berantakan, saya sangat sadar akan hal itu. Tapi belakangan saya terlalu lelah melihat keadaan dunia di sekitar saya yang semakin terbalik. Suatu saat nanti, hal-hal yang salah akan dianggap benar dan hal-hal benar akan dianggap salah. Mungkin memang akan ada suatu saat dimana entertain management yang dulunya dihujat akan jadi menyaingi SM Entertainment, dan orang-orang akan berpikir kenapa dulu kita hujat mereka dan berubah menjadi penyoraknya. Mungkin saja di masa depan musisi modern sudah semakin vulgar dan dianggap trend. Karena suatu saat nanti, hal-hal yang salah akan dianggap benar dan hal-hal benar akan dianggap salah. Di mata saya, musik yang menjual badan dan lirik tidak bermutu tetap adalah sebuah kesalahan, dan dianggap benar oleh khalayak umum. Saya tidak bisa tutup mata saya atas hal-hal ini, karena mereka ada dimana-mana, dan saya lelah karenanya. Oleh karena itu saya menulis ini sekaligus sebagai pemikiran dan refleksi pada diri saya sendiri. 

Tapi setidaknya, melalui ini, saya jadi yakin bahwa kehidupan tradisional tetap lebih baik. Mungkin ketika saya punya anak, saya akan memperlihatkannya pada buku-buku koleksi saya ketimbang ponsel terbaru di masa itu. Saya tidak ingin ia melihat buku sebagai alien, seperti apa yang mulai dilakukan para orang-orang Metropolitan belakangan ini. 

Orang bijak merasa dirinya tidak tahu apa-apa.
Orang yang merasa dirinya sangat artistik, mungkin sebenarnya tidak punya bakat seni sama sekali, atau setidaknya ia salah menggunakan bakat seninya. 
All rights reserved your blog
HOME


About Lenta
Berusaha mengejar 2 impian yang menyenangkan. Duduk menulis dan menggambar jauh lebih menyenangkan daripada berkutat menghadapi angka. Pada akhirnya, perasaan bahagia adalah satu-satunya yang menentukan apa yang manusia inginkan.

Cerita-cerita ini memang tidak bagus, tapi bila suatu saat pembacanya berpikir ini layak disebar ke dunia luas, tolong jangan lupa cantumkan nama penulisnya.
Affiliates
?
etcetera
!
Credits
Layout by mymostloved with script, background and image.